lubuklinggau-punya-berita.blogspot.com - Suasana terik, Senin (1/8) pukul 12.00 WIB tak menyurutkan kumandang tahlil sepanjang pengantaran jenazah Desriyan Solihin (22) ke peristirahatan terakhirnya. Suasana duka menyelimuti keluarga besar Ibrahim (51). Dengan tatapan kosong Ibrahim menabahkan hati menyaksikan menantunya Epi Eprianti (22) terisak. Evi mengantar jenazah sang suami, Desriyan sembari menggendong putra satu-satunya yang merupakan buah dari pernikahannya, Jiban (9 bulan).
![]() |
| gambar ilustrasi |
Mata Epi masih sembab. Menurut sebagian tetangga, dia sangat syok. Suami tercintanya itu tak disangka begitu cepat dipanggil Allah SWT. Epi tampak beberapa kali mengecup kening anaknya. Seakan hatinya berjuang menguatkan hati dengan memeluk erat buah hatinya itu.
“Dia anaknya baik. Sehari-hari jadi sopir mobil pick up. Selama ini korban tidak pernah ribut atau memiliki musuh,” terang sang ayah, Ibrahim saat diwawancarai di lokasi pemakaman putranya, Dusun II, Desa Mekar Sari, Kecamatan Rawas Ilir, Kabupaten Muratara.
Ibrahim menceritakan kilas kronologi pembunuhan yang menimpa putranya itu.
“Des ini (panggilan Desriyan,red) menjemput mobil membawa pipa dari Desa Macang Sakti Kabupaten Muba batas wilayah Kabupaten Muratara untuk dibawa ke Desa Belani. Saat itu dia melewati portal liar. Kemungkinan orang yang jaga portal ini minta duit. Kabarnya sampai banyak, ratusan ribu begitu. Anak saya turun, lalu terjadilah pengeroyokan. Kejadian pembunuhan terjadi di portal liar depan Rumah Redi sebelum mawar merah Jalan Holing Perusahaan PT Gorby,” kata Ibrahim sembari berkaca-kaca.
Ia menceritakan, putranya itu pamit untuk mengambil mobil pukul 14.00 WIB. Sementara Ibrahim baru tahu kabar pengeroyokan putranya pukul 15.30 WIB.
“Saat kejadian, saya sedang menengok bapak di Desa Belani yang sedang sakit, kemudian ditelepon oleh keluarga, bahwa Desrian dikeroyok oleh beberapa orang di lokasi portal, pada waktu korban belum dikatakan meninggal, dan korban ditemukan 200 meter dari TKP, “ ungkap Ibrahim.
Ia sangat berharap agar para pelaku segera ditangkap, dan diberikan hukuman yang seberat-beratnya.
“Agar anak kami dapat tenang di sana. Desrian ini anak kedua kami dari enam bersaudara, dialah anak laki-laki yang menikah duluan dari kakaknya,” cerita Ibrahim.
Selain warga setempat, di kediaman korban Des juga terlihat Camat Rawas Ilir Suharto, dan Kapolsek Rawas Ilir Iptu Fajri Anbiya, dan Kanit Binmas Bripka Annizar Rambang. Mereka melayat hingga mengantarkan jenazah ke lokasi penguburan dan ikut serta dalam prosesi pemakaman.
Mereka berharap agar keluarga yang ditinggalkan untuk dapat bersabar serta ikhlas atas peristiwa yang menimpa saat ini.
Aparat kepolisian akan terus berupaya mengusut kasus ini hingga tuntas, dan menangkap para pelaku.
Selesai acara prosesi pemakaman, Camat Rawas Ilir, Suharto menyampaikan pada keluarga korban dan masyarakat untuk menahan emosi agar tidak mengambil tindakan balas dendam, supaya masalah ini tidak menjadi besar.
“Karena masalah tersebut saat ini sudah ditangani pihak kepolisian, dan kita percayai masalah ini sepenuhnya pada pihak berwajib, semoga saja dalam waktu dekat parah pelaku bisa tertangkap, dan diadili sesuai dengan hukum yang berlaku,” kata Suharto.
Sementara itu Kapolsek Rawas Ilir, Iptu Fajri Anbiya memastikan polisi akan terus melakukan penyelidikan dan pendalaman kasus ini.
seorang saksi kunci aksi pengeroyokan itu Sajidin (36) warga Desa Ulak Tabrau, Kecamatan Lawang Wetan, Kabupaten Muba, sebagai saksi kunci peristiwa pembunuhan Desrian Solihin membenarkan adanya aksi pembunuhan itu.
Saksi Sajidin, kepada wartawan mengatakan, bahwa korban Desrian mati dikeroyok, sebelum terjadi pembunuhan tersebut.
“Desrian menjemput mobil yang kami bawa untuk melakukan pengawalan dari Desa Macang Sakti Kabupaten Muba menuju Desa Belani Kecamatan Rawas Ilir Kabupaten Muratara. Mobil truk yang saya bawa diambil alih oleh Fikri temannya korban, dan saya pindah ke mobil korban, kami berjalan beriringan menuju Desa Belani. Sebelum sampai ke Desa Belani, ada salah satu portal TKP di Jalan Holing PT Gorby Desa Air Bening, mobil truk yang dibawa Fikri bisa langsung lewat. Sementara mobil kami dihadang oleh pelaku,” terang Sajidin.
Melihat truk dihadang, korban turun dari mobil dan menghampiri pelaku, kemudian mereka berdua berbicara.
“Saya juga tidak tahu apa yang dibicarakan. Tiba-tiba saya lihat pelaku mengambil batu dan memukul dada korban, setelah dipukul dengan batu. Rekan saya Desriyan ini lari ke belakang mobil. Setelah itu pelaku mendatangi saya, dan langsung memukul sebanyak dua kali, tapi pukulan tersebut tidak ada yang mengenai, saya melihat korban Des sudah keroyok belasan orang,” kata Sajidin.
Kemudian, Sajidin melanjutkan, dua orang pelaku lainnya mengejarnya. Sajidin melarikan diri arah Desa Air Bening sembunyi ke dalam hutan.
“Melihat Des dikeroyok kemudian saya menelepon Fikri. Saya katakan sedang dikeroyok,” jelasnya.

0 comments:
Post a Comment